Home > Artikel terbaru
Membangun Budaya Kasih Sayang di Dayah: Menghapus Akar Bullying dengan Pendidikan Hati
Oleh: Rahmiyati S.Pd
Home > Artikel terbaru
Membangun Budaya Kasih Sayang di Dayah: Menghapus Akar Bullying dengan Pendidikan Hati
Oleh: Rahmiyati S.Pd
Dalam beberapa tahun terakhir, publik dikejutkan oleh munculnya kasus perundungan (bullying) di sejumlah lembaga pendidikan Islam, termasuk dayah atau pesantren. Di Aceh, beberapa kasus bahkan menimbulkan luka fisik dan trauma psikologis mendalam bagi para korban. Realitas ini tentu memantik keprihatinan, mengingat dayah sejatinya berdiri di atas nilai rahmah (kasih sayang), ukhuwah (persaudaraan), dan pembentukan akhlak mulia.
Pertanyaan penting kemudian muncul: mengapa lembaga yang berbasis nilai keagamaan justru menjadi ruang tumbuhnya kekerasan? Di sinilah letak paradoks pendidikan Islam hari ini. Nilai kasih sering diajarkan dalam teks dan ceramah, tetapi belum sepenuhnya dihidupkan dalam praktik keseharian. Tidak jarang, kekerasan dibenarkan atas nama ketegasan dan pembinaan mental, seolah-olah keras adalah satu-satunya jalan mendidik.
Padahal, dalam Islam, tegas tidak pernah identik dengan kejam. Ketegasan selalu berjalan beriringan dengan kasih dan hikmah.
Pendidikan Hati sebagai Fondasi
Salah satu pendekatan yang relevan untuk menjawab persoalan ini adalah pendidikan hati (heart-based education). Pendidikan tidak semata-mata membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga menghidupkan kesadaran batin, empati, dan kepekaan moral. Dalam tradisi Islam, hal ini bukan konsep baru. Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa hati (qalb) adalah pusat perilaku manusia; ketika hati rusak, maka rusak pula tindakan lahiriah.
Mendidik tanpa menyentuh hati berisiko melahirkan generasi yang patuh secara formal, tetapi kering secara emosional. Pendidikan hati justru menegaskan kemanusiaan santri melalui tiga dimensi utama: penguatan empati antarsesama, internalisasi nilai rahmah dan keteladanan, serta pembentukan budaya lembaga yang menolak kekerasan sebagai metode pembinaan.
Realitas di Lapangan
Observasi terbatas yang dilakukan pada beberapa dayah di Aceh Besar dan Bireuen sepanjang 2024 menunjukkan bahwa praktik “pembinaan keras” masih dianggap wajar. Sejumlah santri mengaku pernah mengalami ejekan, pengucilan, bahkan kekerasan fisik dari senior. Sebagian pimpinan dayah memaknai kekerasan sebagai bagian dari proses pendewasaan mental.
Pendekatan semacam ini kerap mengabaikan dampak psikologis jangka panjang. Berbagai kajian menunjukkan bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan berpotensi melahirkan trauma, dendam sosial, dan siklus kekerasan yang berulang. Data Komnas Perlindungan Anak tahun 2023 bahkan mencatat adanya peningkatan kasus kekerasan di lembaga pendidikan keagamaan. Angka ini seharusnya menjadi alarm bagi dunia pendidikan Islam untuk melakukan refleksi mendalam.
Dari Disiplin Berbasis Takut ke Kesadaran
Masih ada anggapan bahwa menghapus kekerasan berarti melemahkan disiplin. Pandangan ini lahir dari paradigma lama yang menyamakan kepatuhan dengan rasa takut. Padahal, disiplin sejati tidak tumbuh dari ancaman, melainkan dari kesadaran dan tanggung jawab.
Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat jelas. Ketika seorang pemuda datang meminta izin berzina, beliau tidak memarahinya, apalagi menghukumnya. Rasulullah justru berdialog dengan empati, menyentuh logika dan hatinya, hingga pemuda tersebut tersadar. Inilah pendidikan hati: memahami sebelum menghakimi, membimbing tanpa melukai.
Dayah tidak akan kehilangan wibawanya ketika meninggalkan kekerasan. Justru sebaliknya, wibawa akan tumbuh karena santri mematuhi aturan dengan kesadaran, bukan keterpaksaan. Ketegasan tanpa kasih melahirkan kebencian, sementara kasih tanpa arah melahirkan kelemahan. Yang dibutuhkan adalah ketegasan yang menumbuhkan, bukan menakutkan.
Membangun Budaya Kasih di Dayah
Transformasi budaya dayah perlu dimulai dari sistem dan kepemimpinan. Pengasuh dan guru memiliki peran sentral dalam menciptakan iklim pendidikan yang aman dan penuh kepedulian. Beberapa langkah konkret dapat dilakukan, seperti membuka ruang dialog dan pendampingan santri, mengadakan kegiatan reflektif dan sosial berbasis empati, serta menerapkan kebijakan nol toleransi terhadap kekerasan dengan mekanisme pelaporan yang aman bagi korban.
Budaya kasih tidak mungkin tumbuh jika hanya menjadi slogan. Ia harus hadir dalam keteladanan sehari-hari, cara berkomunikasi, serta pola pembinaan yang menghargai martabat santri sebagai manusia yang sedang bertumbuh.
Penutup
Kasus bullying di dayah seharusnya menjadi cermin, bukan sekadar sensasi berita. Ia mengingatkan kita bahwa pendidikan Islam tidak boleh kehilangan ruh kasih sayang. Jika pendidikan bertujuan memanusiakan manusia, maka kekerasan adalah pengingkaran terhadap misi tersebut.
Pendidikan hati menawarkan jalan pulang kembali pada esensi ajaran Islam yang menjunjung rahmah dan kemuliaan manusia. Dengan membangun budaya kasih, dayah dapat kembali menjadi rumah ilmu dan cinta, tempat tumbuhnya generasi yang lembut hati, berdisiplin sadar, dan berjiwa rahmat bagi semesta.